Jumat, 16 Juni 2017

rumus sakti...


* sampaikan dengan bahasa yang jelas, konfirmasi ulang, lalu berikan kesempatan pasangan untuk mengklarifikasi atau menjelaskan jika ada miskomunikasi terjadi...
* sampaikan dengan bahasa yang jelas, konfirmasi ulang, lalu berikan kesempatan pasangan untuk mengklarifikasi atau menjelaskan jika ada miskomunikasi terjadi...

* pilih waktu yang tepat ketika ingin menyampaikan sesuatu, terutama jika yang ingin disampaikan sifatnya masukan. sesuaikan timingnya dengan apa yang akan disampaikan, biar pesannya sampai dengan enak...

* berlatih menjaga intonasi, menjaga gesture... Latih terus hingga menjadi kebiasaan. 

* eye contact ketika berbicara, penting itu... Perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. 

* kita bertanggungjawab atas hasil komunikasi kita. Kalau orang gak paham, mugkin kita yang kurang clear menyampaikan... Kalau orang gak nyaman ngomong sama kita, mungkin kita yang kurang memberi ruang ataupun empati sehingga dia merasa nyaman... 

Lima rumus sakti untuk berkomunikasi dengan pasangan dari materi komunikasi produktif kelas bunda sayang IIP yang sedang saya perkuat instalannya di kepala... 

Memastikan yg diinginkan tersampaikan dengan bahasa yang jelas, memilih waktu yang tepat saat ingin menyampaikan sesuatu terutama masukan buat paksu, berlatih keras menjaga intonasi, gesture dan eye contact, dan memahamkan diri hasil komunikasi saya adalah tanggung jawab saya, bukan tanggungjawab orang lain. Meski saya akui tidak mudah untuk konsisten terutama di masa masa sulit. Ada masa masa dimana anak sedang bermasalah makan, anak sakit, kerjaan rumah tangga menumpuk, etc. Masa masa itu menjadi masa masa yang sangat menantang ... 

Menghadapi jasmeen pun, meski masih lebih banyak berupa komunikasi satu arah, namun perlahan lahan ilmu komunikasi produktif ke anak mulai saya terapkan. Point yang paling saya terapkan sekarang masih pada point menjaga gesture. Anak anak sama juga kayak kita orang dewasa, tidak suka dicuekin. Mereka paham juga mana yang tulus memperhatikan dan membersamai, mana yang ngomong ke dia disambi nge chat di handphone... 😭😭😭

Apapun ilmunya, muaranya adalah S A B A R...

Meyakinkan diri bahwa segala ikhtiar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, pasti akan membuahkan hasil yang baik pula, cepat atau lambat. People will change if we change, so tarik nafas dalam dalam, hembuskan, terus tersenyum dan konsisten berlatih, apapun masalahnya... 

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip






filosofi laki laki dan keong...


Di awal awal pernikahan, Paksu termasuk type laki laki yang susah terbuka kalau punya masalah. Hal ini seringkali terasa mengganggu "ego" saya yang pada saat itu beranggapan bahwa, i am your wife and i have to know everything about you. everything !!!

Namanya hidup, learn, act, and evaluate mesti berjalan. Dulu saya sering memaksa ingin tahu semua, sebuah sikap yang seringkali berujung dengan pertengkaran. Seiring berjalannya waktu saya mulai menyadari sedikit demi sedikit kalau sikap saya keliru. Salah siapa kalau dia merasa tidak nyaman mencurahkan keluh kesahnya pada saya ? 

It's something yang kemudian saya pahami dalam bahasa IIP dikenal dengan hukum " i am responsible with the result of my communication"...

Di dunia ini, Siapa sih yang suka dipaksa ?
Lalu, apakah saya sudah memposisikan diri sebagai orang yang benar benar bisa membuat dia nyaman bercerita ? 

Disini lalu saya mulai menerapkan filosofi keong. Laki laki itu ternyata ibarat keong. Ketika dia mengeluarkan kepalanya, jangan buru buru mengetuk atau menggoyangkan cangkangnya kalau tidak ingin dia masuk kembali  bersembunyi ke dalam cangkang. Kalau sudah bersembunyi, akan butuh waktu lama lagi buat dia mau mengeluarkan kepalanya. 

Jadi kalau paksu tiba tiba bercerita tentang suatu masalah, saya mencoba semaksimal mungkin menjadi pendengar yang baik. Saya berusaha menyimak dengan empati, antusias,  tak memberi tanggapan tanpa diminta, dan yang paling penting tidak menghakimi meskipun jika menurut saya tindakan yg diambilnya tidak sesuai. mostly, saya diam.

MasyaAllah, ternyata cara ini berhasil. Si keong sedikit demi sedikit mulai nyaman mengeluarkan sendiri kepalanya dari cangkang. Tanpa ditanya, makin kesini makin sering paksu cerita sendiri kalau ada masalah. Hubungan kami juga membaik dari hari ke hari. Tak ada paksaan, apalagi pertanyaan pertanyaan bersifat menginterogasi. Kami mencoba menjadi partner yang menyenangkan... 

In fact, people change if we change...

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayIIp

Kamis, 15 Juni 2017

kids...


Masih tentang bocah ganteng bernama ahdan...

CASE 1

"ahdan, stop lompat lompat di kasur"
Kata saya sambil memegang kedua pundaknya dan mengusahakan agar ada eye contact.
Diapun menghentikan aktivitasnya.
"adek jasmeen mau bobo. Ahdan mau ikut bobo ?"
Dia menggeleng. Baiklah. Tidak ada pemaksaan di rumah ini...
"pindah depan tv mainnya ya"
Kata saya sambil tetap menatap matanya.
Dia mengangguk... Yess, i did it.

CASE 2

"Bunda, saya main bola nah..."
"iyya. Di teras belakang nah"
"kenapa ?"
"teras depan licin, habis hujan..."
Dia pun menurut pindah ke belakang. Tapi tiba tiba matanya menatap genangan air berlumpur di depan teras belakang. Hmm, pasti dia lagi punya ide brillian ini... 

"bunda, saya mau lempar bolanya ke situ deh " katanya sambil menunjuk genangan air.

Saya diam sejenak. Kalau saya larang, malah bakal menantang dia untuk betulan melakukan kayaknya...

"boleh..."

Dia menoleh ke saya. Mungkin bingung, kok boleh ? Biasanya dilarang.

"tapi ahdan ambil kembali ya..."
"ahdan bawa baju ganti ?"

Dia menggeleng.
"berarti nanti tidak bisa lama mainnya disini, karena baju ahdan kotor kalau sudah main bola lumpur"

"jangan mi buang bolanya ke situ pale bunda"

"oke..."

Yess, aman dunia, hehehe 

CASE 3

"ahdan, tidur siang yuk ..."
Seperti biasa, jawabannya
"tidak mau deh..."
"adek jasmeen mau jalan jalan nanti sore. Kakak ahdan tidak apa apa tidak tidur  siang, tapi tidak boleh ikut adek jasmeen nanti sore ya... "
"kenapa ?"
" nanti kakak ahdan ngantuk minta cepat pulang"
"tidak ngantukji bunda..."
"biar tidak ngantuk, tetap ndk boleh ikut" 
Belajar dari pengalaman sebelum sebelumnya, mesti ngantuk dan ujung ujungnya tidur di mobil.
"kalau tidur sekarang bisaji ikut ?"
"bisa"

Seperti sudah hafal kebiasaan kami yang ndk bakalan mengakomodir  segala rengekan untuk melanggar kesepakatan, Si bocah ganteng pun nurut dengan manis masuk kamar.

Pingin tepuk tangan. Hehehe...


#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#



Senin, 12 Juni 2017

keep it short and simple...


Kami kedatangan tamu kecil...

Namanya akhdan, sepupu jasmeen, anak saudara perempuan paksu.
Usianya 3 tahun, and you know lah usia segitu, sedang fase sangat aktif menunjukkan ke -aku- annya...
Dan yang agak bikin miris buat saya, di rumahnya, semua sibuk memberitahu dia kalau dia nakal 😭😭😭, sesuatu yang selalu bikin saya tutup mulut rapat rapat demi tidak berceramah pentingnya memberi citra positif buat anak tentang dirinya sendiri.

Anak ini senang main ke rumah. Saya juga senang karena jadi punya tempat berlatih komunikasi dengan anak kecil, berhubung jasmeen ku masih usia 1,2 tahun. Meskipun harus saya akui, komunikasi kami banyak juga yang berujung gigit jari, hehehe...

Kalau saya bilang, "nak, ini sudah jam satu siang, tidur siang yuk, adek jasmeen juga mau tidur"
He will simply answer, "tidak mau. Saya tidak suka tidur siang."

"ahdan, mainannya kalau mau diganti yang lama disimpan dulu di tempatnya baru ambil yg baru. Allah suka keindahan, bla bla bla..."
Dan yang terjadi, ndk sampai lima menit semua mainan sudah dikeluarkan dari tempatnya 😂😂👏👏👏

Yah gitu deh, 3 tahun gitu lho...

Yang kelewat di saya sepertinya satu. Saya lupa anak ini anak cowok 😀... Dan sepertinya untuk ukuran anak cowok, omongan saya suka kepanjangan.

Jadi mesti coba diubah gaya komunikasinya. Istilah ilmu komunikasi produktif bunda sayang, KISS, keep it short and simple, yang bahkan kalau di bunda sayang gak dibedakan buat anak cowok saja, berarti kelak ke jasmeen pun harus begitu. Cuma saya mikirnya, anak cowok mesti lebih short and simple lagi dari anak cewek.

So, mulailah saya mengubah gaya komunikasi, semua diperpendek.

"ahdan, ambil mainan dari kotak satu saja."
"ahdan, cuci kakinya"
"ahdan, stop lompat lompat di kasur"

So far hari ini, sebagian ada yg berhasil, sebagian tidak. Tak apa apa, namanya juga latihan di saya. yg tidak berhasil, mungkin masih kepanjangan di dia atau kurang di eye contact nya... Evaluasi, evaluasi, evaluasi.

Yang positif tidak berhasil, nyuruh tidur siang 🙈... Yah, sudahlah. Lagian, memang enak ndk ngantuk dipaksa tidur ?

Besok datang lagi ya nak, bunda jasmeen masih punya banyak pe er di kelas bunda sayang. Hitung hitung dirimu jadi bahan praktek, wekekekekek...

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Minggu, 11 Juni 2017

7-38-55...

Kadang kadang kalau mumetnya kambuh,  paksu yang biasanya sabar menghadapi saya, bisa keluar juga "tanduknya"...
Kalau sudah begitu, biasanya intonasi suaranya gampang meninggi, dan saya otomatis terpancing buat balas pake nada tinggi juga... Hufft... Kebiasaan buruk.
Pas dapat ilmunya di materi komunikasi produktif bunda sayang IIP, saya pikir ini juga salah satu yang masih mesti saya latih. Menguasai diri. 

Orang bisa berubah kalau kita berubah, right ?

Kemarin dapat kesempatan melatih diri. Di mobil, jasmeen yang sedang masa aktif aktifnya mengeksplorasi segala yg dia lihat tiba tiba saja sudah menggenggam dua keping uang logam. Bahaya buat jasmeen yang sedang fase oral juga, segala gala masuk mulut...
Tepat sebelum si uang logam masuk mulut, saya tahan tangannya sambil ngomong, "ayah kalau anaknya sedang usia aktif dan fase oral kayak jasmeen, jangan simpan uang logam dan barang kecil kecil lainnya sembarangan ya..."
Entah lagi mumet apa, eh, si ayah nyolot, "lho, kenapa saya yang salah, bunda dong awasi jasmeen pegang apa..."

Oalah... Mulut dah mau ikutan nyambar. Saya berusaha nahan sambil tarik nafas. "iyyaaa, saya jaga, tapi ayah juga harus bantu, kan kita kerjasama..." habis itu saya diam. Penting buat saya ngasih jeda ke diri sendiri biar ndk ikutan nyolot... 
Pingin bukain paksu kitab komunikasi produktif bunda sayang di WA messenger saya. Tapi ya sudahlah, mungkin saya yang salah milih kalimat juga tadi. Dan menceramahi paksu tentang menjaga gesture dan intonasi sekarang jelas bukan the right time.

Malamnya, sebelum tidur, seperti biasa ada sesi minta maaf untuk hari ini. Suasananya pas enak, saya tanyalah paksu, "sepertinya hari ini agak berat yah ? Saya perhatikan ayah sedang gampang kesal. Ada masalah di kantor ? 

Ngobrol kesana kemari, termasuk perihal nyolot yang tadi, akhirnya kami bikin kesepakatan, paksu ndk suka kalau saya ngomong bernada menyalahkan, (yang baru saya sadari juga ), terus nanti kalau ada yg ngomong pakai nada tinggi, balas saja langsung pake nada lempeng dan satu kata" in-to-na-si..." biar langsung nyadar...

Lalu kami maaf maafan, dan case pun closed... Menyenangkan kalau bisa menahan amarah itu yah...

#level1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumat, 09 Juni 2017

Its about "the right time"...


Jangan tunggu sampai besok...
Karena besok belum tentu ada...

Bapak saya meninggal saat saya masih SD. pulang shalat jumat, tidak sakit apa apa dan masih sempat request bubur kacang ijo ke ibu. kacang ijo ini sampe hangus karena sesaat setelah direbus, bapak, qadarullah, meninggal dunia, dan ibu tidak ingat lagi sementara rebus kacang di dapur.

Pengalaman ini membuat saya punya semacam trauma, di mata anak SD, kok bisa orang yang barusan masih ngobrol sama kita tiba tiba sudah tidak bisa ngomong apa apa lagi, lalu esoknya hilang dan tidak pernah kembali lagi...

Positifnya, saya belajar menghargai orang orang yang saya sayangi. Setelah menikah saya malah bikin komitmen sama paksu, apapun masalah kita, selesaikan sebelum tidur. Who knows besok saya masih bangun atau tidak ?

Maka jadilah sebelum tidur adalah moment "the right time" buat saya melurus luruskan yang terasa tidak lurus seharian tadi 😁😁😁... Kalau tidak ada masalah apa apa seharian, momen ini bisa kami manfaatkan untuk ngobrol macam macam, dari tingkah jasmeen hari ini, sampai rencana investasi keluarga, dari masalah politik sampai agama... Macam macamlah...

Moment mana yang bisa mengalahkan saat anak sudah tidur, lampu sudah berganti ke lampu tidur, lalu tidur berpelukan sambil ngobrol ? Rasanya semua model miskomunikasi insyaAllah bisa lewat dengan baik... Dan yang paling penting, jadi bikin kangen kalau salah satu dari kami ada yang pergi... 

Make your own daily best time together... Its important.



#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Kamis, 08 Juni 2017

keep it clear and clarify


Bismillahirrahmanirrahim 

Ada hal baru yang menarik ketika beberapa hari ini saya mencoba terus menerapkan tekhnik komunikasi produktif dengan mempersingkat dan memperjelas pesan yang ingin saya sampaikan ke paksu.
Jadi, untuk titipan makanan yg minta dibelikan ke paksu, alih alih menggunakan bahasa mengambang seperti "cari yang enak", "terserah apa yang penting berkuah", dan sebagainya yang kadang rawan menimbulkan rasa tidak puas, kami bikin kesepakatan bagi bagi hari saja. Hari ini ikut selera saya, besok ikut selera paksu. Jadi kalau paksu tanya mau dibelikan apa buat takjil, jawabannya sudah pasti,  mampir beli kue ini, kalau ndk ada kue itu... Sudah itu saja, hehehe... Pas harinya dia, dia silahkan beli ndk usah pake tanya, saya makan saja yg paksu beli.

( biar ndk bingung saya kasi tau ya, saya emak fokus anak, lebih penting jaga anak jadi jarang masak, lebih sering beli..  ~ alasaaann ~ )

Bonusnya, jadi seru seruan juga, giliran harinya dia, penasaran kan ntr buka puasa menunya apa yaaa... Plus jadi tau lebih banyak selera paksu, dan jadi nyadar juga, masyaAllah suamiku, ternyata soal makanan selama ini banyak ngalahnya ikut selera isteri, dimakan saja ndk pake protes 😢
Jadi makin cinta sayaaa...😘😘😘
Gara gara komunikasi produktif nih...

#level1
#day4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Senin, 05 Juni 2017

seni berkomunikasi


Another case of clear and clarify...

Paksu :  dek, kita buka puasa di luar saja yah...
Saya: oke... ( tersenyum sumringah, pucuk dicinta ulam pun tiba )

Seharian rasanya jenuh. Ini hari minggu, seharusnya jadi family day, tapi seharian paksu banyak urusan diluar. Mungkin buat menebus rasa bersalahnya paksu ngajak buka puasa diluar, sekalian jalan jalan...

Di perjalanan menuju resto favorit kami tiba tiba handphone paksu berdering, tapi beliau gak bicara banyak, cuma "oh, begitu", "oh, oke", dkk. Terus paksu mampir beli takjil agak banyak. Mulai curiga nih...

Paksu: "kita buka puasa di rumah mama saja ya..."
Saya: " oh, kenapa ?"
Paksu: " ndk papa, sudah lama tidak kesana"
Saya: "oh.."

Balik haluan ke rumah mertua. Pikir saya paling jadinya buka dulu baru makan malam diluar. Benar saja, habis buka puasa dan shalat maghrib paksu ngajak keluar. Tapi yg terjadi adalah...

Paksu: "dek, lapar ndk ?"
Saya: (mulai ndk sabaran)
      "ya laparlah, maksudnya ? Seharian puasa masa ndk lapar..."
Paksu: "mmm, kita bungkus makanan saja ya, makan di rumah..."
Saya: "terus ?"
Paksu: " ada tamu datang. Urusan kantor, minta ketemuan sebentar"
Saya: ??? (bibir berkerut, muka bengkok, diam seribu bahasa)
Paksu: "dek, ndk papa kan" 
Saya: "ndk usah bungkus makanan, antar kami pulang saja... Saya sudah tidak selera mau makan"
Paksu: "yah... Ngambek..."

Dan terjadilah acara diam diaman semalaman. Sama sama tidak makan, saya pulang tidur dengan hati kesal, paksu juga karena gak enak hati jadi membatalkan bertemu temannya... Hufft... Komunikasi oh komunikasi...

Meski sudah komitmen memperbaiki cara komunikasi dan sudah tau ilmu, kalau inginkan perubahan, mulailah dari diri sendiri, tapi kalau sudah kejadian begini kayaknya jadi pingin forward ke paksu materi komunikasi produktif bunda sayang... Biar bisa sama sama belajar.

Beruntungnya adalah, kami punya kebiasaan dan komitmen sejak awal pernikahan, apapun yang terjadi, kami harus tidur berpelukan 😄🌷... Dan ini alhamdulillah jadi salah satu jurus andalan kami dalam rumah tangga, sehingga alhamdulillah, tabarakallah, masalah masalah kami tidak berlarut larut...

Jadi sebelum tidur, terjadilah percakapan ini..

Saya: "kak, maaf ya, saya marah... "
Paksu: " iya, saya juga minta maaf"
Saya: "tadi itu, seharusnya tidak masalah kalau kakak bilang terus terang, mau pergi sama teman. Jangan dipaksakan mau menyenangkan hati isteri, malah akhirnya jadi mengecewakan. Lagian tradisi kita, hari libur kan family day" (melanggar kaidah kiss ndk ya ini ? )
Paksu: "iya iya, saya ingat. Cuma hari ini semua secara kebetulan harus diselesaikan karena orang orangnya pada mau berangkat besok"
Saya: "iya. Ndk papa. Lain kali dikomukasikan terus terang ya kak. Kalau dikomunikasikan sejak awal, insya Allah saya bisa paham kok."

Intinya hari ini, kekurangan kami masih di clear and clarify. Dan ada satu poin yg mengganjal di hati... Apakah saya terlalu sensitif sehingga paksu terkesan susah jujur, berbelit belit dan tidak to the point ngomong kalau ada hal hal yang akan tidak sesuai  dengan perjanjian kami ? 

Kalau blog ini terbaca oleh bunda fasil, adakah yang bisa bantu saya ?

#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Sabtu, 03 Juni 2017

clear and clarify

Bismillahirrahmanirrahim...

Kemarin coba mulai terapkan ilmu komunikasi produktif di bunsay iip... 
Sedikit flashback dulu yah... Jadi sekitar seminggu yg lalu saya sempat ngambek sama suami. Ceritanya hari itu kan jadwal tenis suami, jadi saya sudah prepare dia pulang pasti telat nih... Karena kalau lagi jadwal tenis, pulang kantor dia langsung mampir lapangan tenis. Bakal jadi hari yang panjang buat saya, karena akan ada waktu cuma saya berdua jasmeen di rumah sebelum dia pulang.

Tiap hari sebenarnya ada sepupu yg rajin datang menemani, saya sudah cerita sekilas tentang dia di postingan sebelumnya. Namanya ria, kami biasa panggil mama ria. Tapi berhubung mama ria ini juga punya keluarga, ba'da asar beliau juga harus pulang ke rumahnya. Jadilah di hari hari tenis ini, tiga kali seminggu, sore hari hanya tinggal kami berdua, which is i dont like. 

Nah Kembali ke cerita seminggu lalu itu. Saya telfonlah si paksu sore sore...

Saya: "Assalamualaikum..."
Paksu: "waalaikumsalam sayang..."
Langsung senang sayaaa, hehehe, tumben tumbenan ngomong sayang...
Saya: "kak, dimana ?"
Paksu: "otw pulang..."
Saya: "lho, bukannya hari ini jadwal tenis ?"
Paksu:"raketnya ndk dibawa"
Saya: "oow... Saya tunggu di rumah kalau begitu"

Duh senangnya paksu ndk jadi main tenisnya. Saya bilanglah ke mama ria, kalau mau pulang, ndk apa apa, pulang saja. Cucian piring dan kawan kawannya, simpan saja, biar saya yang bereskan, toh sebentar lagi juga ayahnya jasmeen pulang. "sekali sekali mama ria pulang lebih cepat biar anaknya senang, apalagi bulan puasa begini", begitu saya bilang, dengan gaya a very wise aunty tentunya... 

Ternyata oh ternyata, paksu pulang cuma ambil raket 😭😭😭... Sukses meninggalkan saya berdua jasmeen saja, dengan kondisi belum masak, cucian piring numpuk, jasmeen belum mandi, saya juga 😂, dan yg fatal, saya belum shalat asar... Yang terakhir nyadarnya pas paksu sudah pergi pula... Alamak. 

Paksu sebenarnya tipikal yg mudah mengalah, asal jangan urusan tenis. Gempa bumi sekalipun kayaknya beliau mesti pergi deh, dan beliau type yg on time banget, beda sama saya 😥

Kecewa campur kesal... Hikss. Ndk mandi, shalat sambil gendong jasmeen, dan harus mengikhlaskan dapur berantakan. 

Pas dapat materi komprod, kayaknya ini salah satu yg mesti saya benahi. Kejadian seminggu lalu itu cuma satu dari sekian banyak kejadian miskomunikasi yg berujung kesal bahkan kadang ngambek gak jelas saya. Makhluk mars yg ndk banyak ngomong ketemu venus yang gaya komunikasinya suka gak jelas, plus suka bikin kesimpulan sendiri tanpa konfirmasi lagi.

So, hari ini, kejadian lagi kayak gitu. Hari main tenis sedunia, dan lagi lagi pulang cepat... 
Tapi sudah punya konsep sayaaahhhh 😄😄😄... 

Saya: kak, senangnya diriku kamu pulang cepat 
( APRESIASI DULU )
paksu: hehe...
Saya: bukannya hari ini jadwal main tenis ?
Paksu: iyya. mau istirahat. Agak capek.
Saya: habis istirahat sebentar tetap pergi main tenis ndk kak ? (KONFIRMASI ULANG)
Paksu: iya 

Ok, sip.

Saya: mama riiiiaaaa, gak jadi pulang cepatnya yaaaaaa, maaf yaaa, hehehe

Penting meminimalisir terjadinya konflik dengan gaya komunikasi CLEAR AND CLARIFY kayak begini. Kecil kecil tapi kalau sering kan gondok juga.

Kalaupun tetap kejadian miskomunikasinya, yang alhamdulillah sampai saat tulisan ini diturunkan ( cieh, sudah kayak reporter saja ) belum terjadi,  paling tidak saya jadi punya kesempatan menerapkan ilmu komprod yg lain...

#level1
#day2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
















Kamis, 01 Juni 2017

tantangan hari pertama bunda sayang

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Sejujurnya saya agak bingung mau mulai dari mana. Ini kali pertama saya mencoba menuliskan cerita, bahasa kerennya, ngeblog, hehehe. Tapi atas nama ilmu dan keinginan terus belajar, baiklah kita coba menjawab tantangan kelas bunda sayang ini lewat blog.

Perkenalkan, nama saya satriani, akrab dipanggil aniek. Saya seorang ibu rumah tangga full time, pasca resign dari sebuah BUMN agustus tahun lalu. Suami saya bernama hazairin nur, berprofesi sebagai dokter bedah di rumah sakit negeri di tempat kami tinggal, pulau kecil yg sangat indah bernama selayar.

Putri kami baru satu, lahir 4 april  2016 dan kami beri nama jasmeen shakila azkadina hazairin. harapannya, putri kami bisa tumbuh menjadi wanita rupawan yang taat dan patuh pada agama, amiin...

Saya dan suami berasal dari suku yg berbeda. Beliau asli selayar, saya bugis dari sinjai. Beda suku, beda sifat, beda karakter... 
Saya yang seriusan, ketemu beliau yg bercandanya kadang over buat saya.
Saya yang perasa ketemu beliau yang suka susah membaca perasaan, hahaha. Kayaknya kalau beliau baca ini bakal dijitak cantik saya... Pokoknya banyaklah perbedaan yg di tahun tahun awal suka bikin kami sama sama senewen.

Kami menunggu 8 tahun untuk bisa dipercaya diberi keturunan. Dianugerahi anak di usia yg sudah tidak terlalu muda memberi kami tantangan tersendiri dalam berkomunikasi. Salah satunya adalah, kami terlalu serius. Mungkin karena sudah mulai tua kali ya baru punya anak, hehehe

Saya mulai menyadari ini ketika melihat ada perbedaan sikap antara ketika putri saya bermain dengan saya, dengan ketika putri saya bertemu dengan sepupu saya yang rutin datang ke rumah. Dia terlihat begitu senang kalau sepupu saya datang berkunjung. Mukanya cerah, matanya berbinar, tawanya lepas, tapi pas sama saya tidak... Tak jarang dia menolak saya ambil kalau sudah digendong sepupu saya. Belum lagi kalau saya gendong matanya sama si sepupu melulu, Ugh, cemburu sekali rasanya saya...

Saya mulai mencari apa yang membuat dia begitu senang main dengan sepupu saya itu. Saya berkonsultasi ke teman teman yang lain, sampai salah satu teman saya ada yang bilang, "niek, ngasuh anak jangan terlalu serius..." 

Lho, bukannya memang harus serius ya ? Ini anak lho, amanah yg akan dipertanggungjawabkan kelak... 

"yes. I do agree. Maksud saya bukan serius dalam artian seperti itu, jasmeen biasa diajak bercanda tidak ? Digelitiki, ci luk ba, diciumi sampe kegelian, kejar kejaran, sembunyi sembunyian... Jangan terlalu serius... Ngomong sama anak kecil, pake "bahasa" anak kecil..."

Hmm... Mungkin disini bedanya yah. 
Saya akui, euphoria dianugerahi bayi manis ini membuat saya yang tipikal serius dan perfeksionis parah, langsung mengejar segala info tentang membesarkan anak yang benar seperti apa.
Kalau dipikir pikir, mungkin itulah yang bu septi bilang, tsunami ilmu. 
Kadang Saya terlalu mengukur tindak tanduk saya ke jasmeen, karena bayangan saya, saya adalah teladan dia, gak boleh terlalu begini, gak boleh terlalu begitu... Dst. Dst...

So i start to evaluate... Saya belajar menduplikasi gaya si sepupu cantik ini. Tidak semua sih, karena ada beberapa juga yang menurut saya tidak sesuai... Terutama gaya "tembok nakal, pukul temboknya..." kalau jasmeen terantuk... Hihihi hari gini masih ada ya yg kayak gitu. 

Singkat cerita, proses belajar mulai membuahkan hasil. Belajar menertawai hal hal kecil, kejar kejaran, petak umpet, ci luk ba, nyanyi nyanyi tepuk tangan. She looks really enjoy it. Gak ada lagi drama nangis kalau si tante, sepupu saya itu pulang. Dia bahkan mulai menolak kalau si tante mau gendong, dan tawanya itu lho kalau lagi main sama saya, lepas dan ceria... Disitu kadang saya pingin tepuk bahu sendiri, hehehe, good job mom...

Next, 
Berhubung jasmeen sudah setahun lebih, saya pikir sudah saatnya mulai memasukkan materi materi selevel lebih tinggi. Sudah mulai ada sesi yuk kita rapikan mainan setelah main, mengatur rutinitas mandi - makan - main - tidur - makan - baca buku - tidur - mandi sore, dst. dengan lebih apik lagi... Tidak sebatas asal jasmeen senang, tapi mulai ada proses pendisiplinan.

Kebetulannya, pas lagi belajar itu, eh ketemu materi pertama di kelas bunda sayang, KOMUNIKASI PRODUKTIF... Yippiee.... Mantaplah ini... Bahkan berasa telat mulainya, hehehe... Tak mengapa, belum telat telat amat kan bunda fasil ?

Postingan ini mungkin belum termasuk menjawab tantangan hari pertama, tapi sebagai pengantar untuk mulai menerapkan komunikasi produktif ke suami dan anak dan menuangkannya dalam narasi berjudul TANTANGAN KOMUNIKASI PRODUKTIF BUNDA SAYANG hari I dan seterusnya,  lalu belajar konsisten menerapkan seumur hidup, hehehe... Semangat !!!



#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



melatih kemandirian 4

Finally jasmeenku sudah bisa jalan sendiri, hehehe... Random banget ya, habis laporan belajar makan, belajar jalan, balik belajar maka...