Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Sejujurnya saya agak bingung mau mulai dari mana. Ini kali pertama saya mencoba menuliskan cerita, bahasa kerennya, ngeblog, hehehe. Tapi atas nama ilmu dan keinginan terus belajar, baiklah kita coba menjawab tantangan kelas bunda sayang ini lewat blog.
Perkenalkan, nama saya satriani, akrab dipanggil aniek. Saya seorang ibu rumah tangga full time, pasca resign dari sebuah BUMN agustus tahun lalu. Suami saya bernama hazairin nur, berprofesi sebagai dokter bedah di rumah sakit negeri di tempat kami tinggal, pulau kecil yg sangat indah bernama selayar.
Putri kami baru satu, lahir 4 april 2016 dan kami beri nama jasmeen shakila azkadina hazairin. harapannya, putri kami bisa tumbuh menjadi wanita rupawan yang taat dan patuh pada agama, amiin...
Saya dan suami berasal dari suku yg berbeda. Beliau asli selayar, saya bugis dari sinjai. Beda suku, beda sifat, beda karakter...
Saya yang seriusan, ketemu beliau yg bercandanya kadang over buat saya.
Saya yang perasa ketemu beliau yang suka susah membaca perasaan, hahaha. Kayaknya kalau beliau baca ini bakal dijitak cantik saya... Pokoknya banyaklah perbedaan yg di tahun tahun awal suka bikin kami sama sama senewen.
Kami menunggu 8 tahun untuk bisa dipercaya diberi keturunan. Dianugerahi anak di usia yg sudah tidak terlalu muda memberi kami tantangan tersendiri dalam berkomunikasi. Salah satunya adalah, kami terlalu serius. Mungkin karena sudah mulai tua kali ya baru punya anak, hehehe
Saya mulai menyadari ini ketika melihat ada perbedaan sikap antara ketika putri saya bermain dengan saya, dengan ketika putri saya bertemu dengan sepupu saya yang rutin datang ke rumah. Dia terlihat begitu senang kalau sepupu saya datang berkunjung. Mukanya cerah, matanya berbinar, tawanya lepas, tapi pas sama saya tidak... Tak jarang dia menolak saya ambil kalau sudah digendong sepupu saya. Belum lagi kalau saya gendong matanya sama si sepupu melulu, Ugh, cemburu sekali rasanya saya...
Saya mulai mencari apa yang membuat dia begitu senang main dengan sepupu saya itu. Saya berkonsultasi ke teman teman yang lain, sampai salah satu teman saya ada yang bilang, "niek, ngasuh anak jangan terlalu serius..."
Lho, bukannya memang harus serius ya ? Ini anak lho, amanah yg akan dipertanggungjawabkan kelak...
"yes. I do agree. Maksud saya bukan serius dalam artian seperti itu, jasmeen biasa diajak bercanda tidak ? Digelitiki, ci luk ba, diciumi sampe kegelian, kejar kejaran, sembunyi sembunyian... Jangan terlalu serius... Ngomong sama anak kecil, pake "bahasa" anak kecil..."
Hmm... Mungkin disini bedanya yah.
Saya akui, euphoria dianugerahi bayi manis ini membuat saya yang tipikal serius dan perfeksionis parah, langsung mengejar segala info tentang membesarkan anak yang benar seperti apa.
Kalau dipikir pikir, mungkin itulah yang bu septi bilang, tsunami ilmu.
Kadang Saya terlalu mengukur tindak tanduk saya ke jasmeen, karena bayangan saya, saya adalah teladan dia, gak boleh terlalu begini, gak boleh terlalu begitu... Dst. Dst...
So i start to evaluate... Saya belajar menduplikasi gaya si sepupu cantik ini. Tidak semua sih, karena ada beberapa juga yang menurut saya tidak sesuai... Terutama gaya "tembok nakal, pukul temboknya..." kalau jasmeen terantuk... Hihihi hari gini masih ada ya yg kayak gitu.
Singkat cerita, proses belajar mulai membuahkan hasil. Belajar menertawai hal hal kecil, kejar kejaran, petak umpet, ci luk ba, nyanyi nyanyi tepuk tangan. She looks really enjoy it. Gak ada lagi drama nangis kalau si tante, sepupu saya itu pulang. Dia bahkan mulai menolak kalau si tante mau gendong, dan tawanya itu lho kalau lagi main sama saya, lepas dan ceria... Disitu kadang saya pingin tepuk bahu sendiri, hehehe, good job mom...
Next,
Berhubung jasmeen sudah setahun lebih, saya pikir sudah saatnya mulai memasukkan materi materi selevel lebih tinggi. Sudah mulai ada sesi yuk kita rapikan mainan setelah main, mengatur rutinitas mandi - makan - main - tidur - makan - baca buku - tidur - mandi sore, dst. dengan lebih apik lagi... Tidak sebatas asal jasmeen senang, tapi mulai ada proses pendisiplinan.
Kebetulannya, pas lagi belajar itu, eh ketemu materi pertama di kelas bunda sayang, KOMUNIKASI PRODUKTIF... Yippiee.... Mantaplah ini... Bahkan berasa telat mulainya, hehehe... Tak mengapa, belum telat telat amat kan bunda fasil ?
Postingan ini mungkin belum termasuk menjawab tantangan hari pertama, tapi sebagai pengantar untuk mulai menerapkan komunikasi produktif ke suami dan anak dan menuangkannya dalam narasi berjudul TANTANGAN KOMUNIKASI PRODUKTIF BUNDA SAYANG hari I dan seterusnya, lalu belajar konsisten menerapkan seumur hidup, hehehe... Semangat !!!
#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Saya mulai menyadari ini ketika melihat ada perbedaan sikap antara ketika putri saya bermain dengan saya, dengan ketika putri saya bertemu dengan sepupu saya yang rutin datang ke rumah. Dia terlihat begitu senang kalau sepupu saya datang berkunjung. Mukanya cerah, matanya berbinar, tawanya lepas, tapi pas sama saya tidak... Tak jarang dia menolak saya ambil kalau sudah digendong sepupu saya. Belum lagi kalau saya gendong matanya sama si sepupu melulu, Ugh, cemburu sekali rasanya saya...
Saya mulai mencari apa yang membuat dia begitu senang main dengan sepupu saya itu. Saya berkonsultasi ke teman teman yang lain, sampai salah satu teman saya ada yang bilang, "niek, ngasuh anak jangan terlalu serius..."
Lho, bukannya memang harus serius ya ? Ini anak lho, amanah yg akan dipertanggungjawabkan kelak...
"yes. I do agree. Maksud saya bukan serius dalam artian seperti itu, jasmeen biasa diajak bercanda tidak ? Digelitiki, ci luk ba, diciumi sampe kegelian, kejar kejaran, sembunyi sembunyian... Jangan terlalu serius... Ngomong sama anak kecil, pake "bahasa" anak kecil..."
Hmm... Mungkin disini bedanya yah.
Saya akui, euphoria dianugerahi bayi manis ini membuat saya yang tipikal serius dan perfeksionis parah, langsung mengejar segala info tentang membesarkan anak yang benar seperti apa.
Kalau dipikir pikir, mungkin itulah yang bu septi bilang, tsunami ilmu.
Kadang Saya terlalu mengukur tindak tanduk saya ke jasmeen, karena bayangan saya, saya adalah teladan dia, gak boleh terlalu begini, gak boleh terlalu begitu... Dst. Dst...
So i start to evaluate... Saya belajar menduplikasi gaya si sepupu cantik ini. Tidak semua sih, karena ada beberapa juga yang menurut saya tidak sesuai... Terutama gaya "tembok nakal, pukul temboknya..." kalau jasmeen terantuk... Hihihi hari gini masih ada ya yg kayak gitu.
Singkat cerita, proses belajar mulai membuahkan hasil. Belajar menertawai hal hal kecil, kejar kejaran, petak umpet, ci luk ba, nyanyi nyanyi tepuk tangan. She looks really enjoy it. Gak ada lagi drama nangis kalau si tante, sepupu saya itu pulang. Dia bahkan mulai menolak kalau si tante mau gendong, dan tawanya itu lho kalau lagi main sama saya, lepas dan ceria... Disitu kadang saya pingin tepuk bahu sendiri, hehehe, good job mom...
Next,
Berhubung jasmeen sudah setahun lebih, saya pikir sudah saatnya mulai memasukkan materi materi selevel lebih tinggi. Sudah mulai ada sesi yuk kita rapikan mainan setelah main, mengatur rutinitas mandi - makan - main - tidur - makan - baca buku - tidur - mandi sore, dst. dengan lebih apik lagi... Tidak sebatas asal jasmeen senang, tapi mulai ada proses pendisiplinan.
Kebetulannya, pas lagi belajar itu, eh ketemu materi pertama di kelas bunda sayang, KOMUNIKASI PRODUKTIF... Yippiee.... Mantaplah ini... Bahkan berasa telat mulainya, hehehe... Tak mengapa, belum telat telat amat kan bunda fasil ?
Postingan ini mungkin belum termasuk menjawab tantangan hari pertama, tapi sebagai pengantar untuk mulai menerapkan komunikasi produktif ke suami dan anak dan menuangkannya dalam narasi berjudul TANTANGAN KOMUNIKASI PRODUKTIF BUNDA SAYANG hari I dan seterusnya, lalu belajar konsisten menerapkan seumur hidup, hehehe... Semangat !!!
#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Tidak ada komentar:
Posting Komentar